atsiri

Minyak Atsiri

Bangsa Mesir semasa pemerintahan Firaun merupakan bangsa yang menggunakan aroma. Entah itu untuk keperluan pengobatan maupun sekadar pengharum badan. Oleh karena itu, tak heran jika Ratu Cleopatra sering dianggap sebagai persamaan dari wewangian.Keahlian Ratu Cleopatra dalam memadukan dan menggunakan wewangian inilah, yang konon merupakan kekuatan utamanya dalam merebut hati kaisar Romawi, Marcus Antonius atau Mark Anthony

Pengetahuan tentang khasiat wewangian itu pun menyebar dari Mesir ke Yunani, Cina, dan India. Sehingga, ketiga negara itu juga merupakan negara pemakai wewangian untuk tujuan pengobatan. Minyak esensial juga digunakan untuk pembalsaman atau pengawetan mumi karena mampu mencegah pembusukan.

Di Indonesia, penggunaan wewangian atau aroma yang digunakan dalam berbagai kesempatan di tahap-tahap kehidupan sudah ada sejak zaman dahulu. Pada zaman modern ini, makin banyak orang berlomba-lomba untuk hidup akrab dengan lingkungan alam. Semua yang berbau alami merupakan sesuatu yang perlu diikuti. Oleh sebab itu, tidak heran bila 20 tahun belakangan ini, aroma terapi (aroma therapy) populer lagi. Aromaterapi bisa digambarkan sebagai seni perawatan diri yang menggunakan sari minyak murni. Sari minyak murni atau minyak atsiri ini dapat membangkitkan semangat, menyegarkan, menenangkan, atau menstabilkan jiwa dan raga.

Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, serta minyak aromatik. Minyak atsiri yang dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman.Minyak atsiri adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, sehingga memberikan aroma yang khas

Para peneliti akhirnya mengerti mengapa Hippocrates, bapak pengobatan, menyarankan agar mandi uap panas setiap hari yang diberi wangi-wangian esensial untuk panjang umur. Riset terakhir membuktikan bahwa efek wangi-wangian esensial pada tubuh dan pikiran dapat menghilangkan stres, meningkatkan kekebalan tubuh, dan menimbulkan perasaan bugar.

Saat ini, banyak ahli pengobatan yang mengandalkan keberhasilan terapinya pada minyak murni. Sari minyak murni sangat berguna untuk perawatan kulit, tubuh, pikiran dan perasaan. Aroma sari minyak murni Royal Heritage yang menyebar ke seluruh ruangan akan membuat seluruh anggota keluarga dan lingkungan sekitarnya turut merasakan manfaat keharuman tersebut.

Pemakaian aroma terapi akan membantu aktivitas sehari-hari, karena perasaan yang penat dibuat menjadi segar dan tenang, serta memberi rasa nyaman pada saat menghadapi kesibukan sehari-hari. Manfaat aromaterapi ini sangat banyak, mulai dari pertolongan pertama sampai membangkitkan rasa gembira dan meringankan masalah keluarga sampai ke pijat terapi, dari masalah bisnis sampai olahraga. Sari minyak murni dapat digunakan untuk setiap kesempatan.

Tak berlebihkan jika dikatakan, aroma terapi merupakan cara menuju hidup sehat yang penuh dengan vitalitas.Belakangan muncul istilah sari minyak murni. Sejenis cairan wewangian berkhasiat yang diambil dari tumbuh-tumbuhan, seperti bunga, akar, biji, daun dan getah. Kandungan sari minyak murni ini berasal dari bagian tanaman yang berbeda-beda, tergantung dari jenis tumbuhannya. Menurut Arnould Taylor, pakar minyak esensial dari Inggris, tidak ada perbedaan antara Essential Oil Treatment dan Aromatherapy. Essential Oil merupakan substansi dari tumbuh-tumbuhan yang jika digunakan untuk tujuan treatment disebut aroma terapi.

Di berbagai negara, banyak ahli terapi alternatif dan dokter yang menggunakan sari minyak murni sebagai antiseptik dan antibakteri. Sari minyak murni diakui sebagai salah satu faktor yang membantu penyembuhan pasien mereka.

Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri.

Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda. Minyak atsiri mempunyai rasa getir (pungent tase), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air.

Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil.

Tanaman yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies tanaman, yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rhizome.

Khususnya di Indonesia telah dikenal sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, namun baru sebagian dari jenis tersebut telah digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersil. Minyak atsiri yang disebut juga minyak eteris, minyak terbang atau “essential oil”, dipergunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri. Kegunaan minyak atsiri sangat banyak, tergantung dari jenis tumbuhan yang diambil hasil sulingnya., misalnya pada industri parfum, kosmetik, “essence”, industri farmasi dan “flavoring agent”. Dalam pembuatan parfum dan wangi-wangian, minyak atsiri tersebut berfungsi sebagai zat pewangi, terutama minyak atsiri yang berasal dari bunga dan yang berasal dari jenis hewan tertentu. Beberapa jenis minyak atsiri dapat digunakan sebagai zat pengikat bau (fixative) dalam parfum, misalnya minyak nilam, minyak akar wangi dan minyak cendana. Minyak atsiri yang berasal dari rempah-rempah misalnya minyak lada, minyak kayu manis, minyak pala, minyak cengkeh, minyak ketumbar dan minyak jahe, umumnya digunakan sebagai bahan penyedap (flavoring agent) dalam bahan pangan dan minuman.

Berikut adalah daftar tanaman atsiri penghasil minyak atsiri yang berkembang di Indonesia :

No. Tanaman Nama Latin Sumber Minyak
1. Adas Foenicullum vulgare Buah dan Biji
2. Akar wangi Vetiveria zizanoides Akar
3. Anis Clausena anisata Buah dan Biji
4. Bangle Bangle oil –
5. Cendana Santalum album Batang
6. Cengkeh Syzygium aromaticum Bunga
7. Jahe Zingiber officinale Akar
8. Jeringau Acarus calamus –
9. Kapulaga Kapulaga Buah dan Biji
10. Kayu Manis Cinnamomum cassia Batang
11. Kayu putih Melaleuca leucadendron Daun
12. Kemangi Basil Oil Daun
13. Kenanga Canangium odoratum Bunga
14. Ketumbar Coriandrum sativum Buah dan Biji
15. Lada Piper nigrum Buah dan Biji
16. Lavender Lavender Bunga
17. Massoi Criptocaria massoia Batang
18. Mawar Mawar Bunga
19. Melati jasminum sambac Bunga
20. Nilam Pogestemon Cablin Daun
21. Orris Orris Akar
22. Pala Myristica fragrans Buah dan Biji
23. Permen Cornmint oil –
24. Rosemari Rosmarinus officinale –
25. Sedap Malam Sedap Malam Bunga
26. Selasih Mekah Ocimum grattisimum –
27. Sereh Wangi Cymbopogon citrates Daun
28. Wintergreen Wintergreen Daun
29. Ylang-ylang Canangium odoratum –

Minyak atsiri bersumber dari daun

Minyak nilam
Sereh wangi
Minyak kayu putih
Minyak wintergreen
Minyak kemangi
Minyak daun cengkeh

Minyak atsiri bersumber dari bunga

Minyak cengkeh
Minyak kenanga dan ylang-ylang
Minyak lavender
Minyak mawar
Minyak melati
Minyak sedap malam

Minyak atsiri bersumber dari buah

Minyak anis bintang
Minyak lada
Minyak kapulaga
Minyak adas
Minyak badam pait
Minyak kemukus
Minyak biji ketumbar

Minyak atsiri bersumber dari batang

Minyak kayu manis
Minyak kulit massoi
Minyak kulit lawang
Minyak cendana

Minyak atsiri bersumber dari akar

Minyak akar wangi
Minyak jahe
Minyak akar orris

Peluang pasar komoditi minyak atsiri ini masih terbuka luas baik di dalam maupun luar negeri. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa hanya sebagian kecil jenis minyak atsiri yang telah diproduksi di Indonesia. Permintaan minyak atsiri ini pun diperkirakan terus meningkat dengan bertambahnya populasi penduduk dunia.

Minyak atsiri adalah minyak mudah menguap dan diperoleh dari tanaman dengan cara penyulingan uap. Atau suatu hasil reaksi hidrolisis bahan tanaman yang mudah menguap dari kandungan senyawa esensi tanaman itu. Untuk memperoleh pengolahan minyak atsiri yang optimum dalam mendapatkan produksi minyak atsiri yang berkuantitas dan kualitas yang baik. Karena ketidak tepatan pemilihan sistem dan jenis bahan yang digunakan dapat menurunkan mutu minyak tersebut seperti rendemen rendah, mudahnya rancid (tengik) dan kemurnian minyak berubah (campuran). Dengan semakin lamanya waktu ekstraksi dapat menyebabkan pemisahan minyak dari bahan semakin tidak sempurna

Minyak yang ada di alam dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : minyak mineral (mineral oil), minyak nabati dan hewani yang dapat dimakan, serta minyak atsiri (essential oil). Minyak atsiri dikenal juga dengan nama eteris atau minyak terbang (volatile oil) yang dihasilkan oleh tanaman. Minyak atsiri mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umunya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Dalam bidang industri, minyak atsiri digunakan untuk pembuatan kosmetik, parfum, antiseptik, obat-obatan, flavoung agent dalam makanan atau minuman serta sebagai pencampur rokok kretek. Beberapa jenis minyak atsiri digunakan sebagai bahan astiseptik internal dan eksternal, untuk bahan analgesic, haemolitic atau sebagai antizymatic serta sebagai sedavita dan stimulans untuk obat sakit perut. Minyak atsiri yang baru diekstraksi biasanya tidak berwarna atau ber-warna kekuning-kuningan. Jika minyak atsiri lama di udara terbuka dan terkena cahaya serta pada suhu kamar, maka minyak atsiri tersebut dapat meng-absorbsi oksigen di udara sehingga menghasilkan warna minyak yang lebih gelap, bau minyak berubah dari bau wangi alamiahnya dan minyak lebih kental dan akhirnya membentuk sejenis resin. Minyak atsiri dapat menguap pada suhu kamar dan penguapannya semakin besar seiring dengan kenaikan suhu. Umumnya minyak atsiri larut dalam alkohol encer yang konsentrasinya kurang dari 70%. Daya larut tersebut akan lebih kecil jika minyak atsiri mengandung fraksi terpene dalam jumlah besar. Sifat minyak atsiri ditentukan oleh persenyawaan kimia yang terdapat di dalamnya, terutama persenyawaan tak jenuh (terpene), ester, asam dan aldehida serta beberapa jenis persenyawaan lainnya.

Karena pengolahan yang tidak tepat telah menjadikan mutu minyak atsiri menjadi menyimpang dengan terjadinya reaksi oksidasi dan hidrolisis. Yang mana senyawa-senyawa oksidator dan air telah menyebabkan reaksi dengan minyak atsiri tersebut sehingga berakibat minyak akan mudah mengalami rancid dan aroma tidak sedap. Dalam proses penyulingan muadah terjadinya reaksi tersebut.

Minyak atsiri dapat diproduksi dengan berberapa cara penyulingan, ekstraksi dengan menggunakan pelarut dan metode pengempaan, beberapa proses yang dapat mengakibatkan perubahan sifat kimia minyak adalah oksidasi, hidrolisa polimerisasi (resinifikasi) dan penyabunan. Cara yang umum digunakan pengusaha kecil adalah dengan proses penyulingan atau hidrodestilasi yang relatif lebih murah dan menggunakan peralatan yang sederhana.

Minyak atsiri secara umum terdiri atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O), ka-dang-kadang juga terdiri atas nitrogen (N) dan be-lerang (S). Minyak atsiri me-ngandung resin dan lilin dalam jumlah kecil yang merupakan komponen yang tidak dapat me-nguap. Berdasarkan komposisi kimia dan unsur-unsurnya minyak atsiri dibagi dua, yaitu: hydrocarbon dan oxygeneted hydrocarbon.

Hydrocarbon/hidrokarbon memiliki unsur-unsur hidrogen (H) dan karbon (C). Hidrokarbon terdiri atas senyawa terpene. Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar ter-diri atas : monoterpen (2 unit isoprene), sesouiterpen (3 unit isoprene), diterpen (4 unit isoprene), politerpen, parafin, olefin dan hidrokarbon aromatik. Kom-ponen hidrokarbon yang dominan menentukan bau dan sifat khas dari setiap jenis minyak, sebagai contoh minyak jeruk mengandung 90% limonen. Oxygeneted Hydrocarbon mengandung unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Yang termasuk oxygeneted hydrocarbon adalah persenyawaan alkohol, aldehida, keton, oksida, ester dan eter. Ikatan karbon dalam oxygeneted hydro-carbon ada yang jenuh dan ada yang tidak jenuh.

Teknologi Pengolahan Minyak Atsiri

Minyak atsiri adalah zat cair yang mudah menguap bercampur dengan persenyawaan padat yang berbeda dalam hal komposisi dan titik cairnya, larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Berdasarkan sifat tersebut, maka minyak atsiri dapat diekstrak dengan 3 macam cara, yaitu :

1. Penyulingan

Penyulingan adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari 2 macam campuran atau lebih, berdasarkan perbedaan titik uapnya dan proses ini dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak larut dalam air.

Dalam industri pengolahan minyak atsiri telah dikenal 3 macam sistem penyulingan, yaitu :

a. Penyulingan dengan air

Pada sistem penyulingan dengan air, bahan yang akan disuling langsung kontak dengan air mendidih. Bahan yang akan disuling dapat melayang atau seluruhnya dapat tenggelam dalam air, hal ini tergantung pada berat jenis dan banyaknya bahan yang berada dalam ketel penyuling. Oleh karena itu sistem ini sangat baik digunakan untuk penyulingan bahan yang dapat bergerak bebas dalam air mendidih. Apabila bahan tersebut disuling dengan uap, maka akan terjadi penggumpalan dan uap tidak dapat menembus sel-sel dari bahan secara merata.

Pada saat penyulingan berlangsung, setiap butir-butir minyak yang terdapat di dalam jaringan bahan dapat ditarik dari kelenjer dan di bawa ke permukaan bahan oleh peristiwa osmose. Kemudian bersama dengan uap air menuju alat pendingin (kondenser), dan akhirnya ditampung dengan alat pemisah air dengan minyak.

Sumber panas yang biasanya digunakan untuk menguapkan air adalah api langsung atau mantel-mantel panas (steam jocket), cepat atau lambatnya penyulingan dapat dikontrol dengan intensitas nyala api atau tekanan uap dalam mantel yang mengatur kecepatan uap masuk. Untuk menghindari terlampaunya bahan yang disuling apabila menggunakan api langsung biasanya dipasang pengatur khusus.

Penyulingan dengan sistem air langsung, tekanan uap biasanya sama dengan tekanan udara luar, yakni 1 atsmosfer. Suatu kelemahan penyulingan dengan air langsung ialah sebagian zat kimianya yang dapat larut dalam air dan mempunyai titik didih yang tinggi akan tetap terikat bersama air dalam ketel.

Penyulingan dengan air langsung, alat-alatnya sederhana dan mudah dipindah-pindahkan. Rendemen minyak umumnya rendah. Air sulingan yang dipisahkan dengan minyak sebaiknya dikembalikan ke dalam ketel penyulingan agar minyak yang larut dalam air dapat tersuling kembali.

b. Penyulingan dengan air dan uap

Bahan yang akan disuling diletakkan di atas ayakan pemisah yang terdapat beberapa cm di atas air. Pada sistem penyulingan air dan uap, kondisi dalam ketel penyulingan selalu jenuh dan basah. Bahan hanya berhubungan dengan uap, bukan dengan air yang mendidih. Uap bertekanan rendah dalam jenuh basah, melalui bahan dan keluarnya butir-butir minyak dari sel kelenjer dipengaruhi oleh kepadatan bahan dalam ketel tekanan uap, berat jenis dengan kadar air bahan serta berat molekul komponen bahan disuling.

Salah satu keuntungan dari penyulingan air dan uap apabila dibandingkan dengan penyulingan langsung bahwa uap yang tidak merata dapat dihindarkan. Uap bergerak diseluruh permukaan dan dididihkan sehingga penetrasi uap kedalam jaringan-jaringan bahan berjalan dengan baik dan sempurna.

Kecepatan penyulingan dengan sistem penyulingan air dan uap ini relatif lebih cepat apabila dibandingakan dengan sistem penyulingan air langsung, dan hasil minyak yang diperoleh lebih banyak jumlahnya serta mutu lebih baik.

Penyulingan dengan air dan uap sangat cocok untuk bahan yang akan disuling berupa daun dan rumput-rumputan. Bahan di dalam ketel harus merata letak dan ukurannya supaya jangan terjadi penggumpalan. Distilat yang telah dipisahkan dengan minyak dapat dibuang langsung (jika perlu).

c. Penyulingan dengan uap

Pada dasarnya prinsip penyulingan dengan uap hampir sama dengan penyulingan dengan air dan uap. Perbedaannya ialah bahwa air yang dipanaskan tidak terdapat dalam ketel penyulingan, tetapi dalam boiler yang terpisah. Uap yang dihasilkan mempunyai tekanan yang lebih tinggi dari tekanan udara luar dan dialirkan melalui bahan yang terdapat dalam ketel penyulingan. Dengan menggunakan uap dari boiler periode pertama suhu bahan dalam ketel akan naik, dan sebagian dari uap akan berkondensasi. Uap yang berkondensasi ini akan mengekstrak minyak yang terkandung dalam kelenjer-kelenjer minyak pada bahan dan di bawa ke permukaan.

Apabila penyulingandimulai dengan uap bertekanan tinggi akan terjadi penguraian dari kandungan bahan. Penyulingan dengan uap sebaiknya dimulai dengan uap bertekanan rendah kemudian secara berangsur-angsur tekanan dinaikkan. Biasanya tekanan mula-mula 1 atsmosfer, kemudian secara berangsur-angsur dinaikkan sampai 3 atsmosfer. Apabila kadar minyak dalam bahan dianggap telah menurun sedengkan zat penting yang mempunyai titk-titik didih tinggi belum tersuling, maka tekanan uap dapat dinaikan lagi.

Selama penyulingan suhu tekanan uap dalam ketel penyuling harus dijaga, karena ini akan mengakibatkan mengeringnya bahan yang disuling dan merendahkan kadar minyak yang dihasilkan, sedangkan tekanan uap yang tinggi menyebabkan terjadinya penguraian komponen-komponen minyak. Oleh sebab itu penyulingan harus dimulai dengan tekanan rendah, berangsur-angsur tekanan dinaikan.

Cara penyulingan ini cocok sekali digunakan untuk mengekstraksi minyak biji-bijian, akar dan kayu-kayuan yang mengandung minyak dengan titik didih yang tinggi, tidak baik untuk serbuk. Jumlah dan mutu minyah lebih tinggi dibandingan dengan cara penyulingan terdahulu asal saja tidak terjadi atau pengumpulan waktu penyulingan. Air distilasi yang dipisahkan dengan minyak dapat dibuang langsung.

2. Ekstraksi dengan pelarut menguap

Prinsip ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan dengan pelarut organik yang mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam wadah (ketel) yang disebut ”extractor”.

Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dengan uap dan air, terutama untuk mengekstrak minyak dari bunga-bungaan misalnya bunga cempaka,melati, mawar, kenanga, lily, dan lain-lain.

Bung-bungaan yang masih segar dimasukkan ke dalam ”extractor” dan selanjutnya pelarut menguap yang murni dipompakan ke dalam ”extractor”. Sebagai pelarut biasanya digunakan petroleum ether, carbon tetra chlorida, chloroform dan pelarut lainnya yang bertitik didih rendah. Pelarut organik akan berpenetrasi ke dalam jaringan bunga-bungaan dan akan melarutkan minyak serta bahan ”non volatile” yang berupa resin, lilin dan beberapa macam zat warna.

Komponen ”non volatile” tersebut merupakan kotoran dalam minyak atsiri, dan kotoran tersebut dapat dipisahkan dengan cara penyulingan pada suhu rendah dan tekanan vakum. Dengan cara penyulingan ini maka pelarut beserta minyak atsiri akan menguap dan selanjutnya uap tersebut dikondensasikan, sedangkan komponen ”non volatile” tetap tertinggal dalam ketel suling.

Hasil kondensasi yang merupakan campuran dari pelarut dan minyak atsiri, disebut ”concrete”. Jika ”concrete” tersebut dilarutkan dalam alkohol, maka minyak atsiri akan larut sempurna, sedangkan fraksi lilin tidak dapat larut dan akan membentuk endapan keruh.

Dalam industri pembuatan parfum, fraksi lilin tersebut dapat dipisahkan dengan cara mengekstraksi minyak atsiri dari ”concrete” secara berulang-ulang menggunakan alkohol. Proses ekstraksi ini dilakukan dalam suatu alat yang khusus dilengkapi dengan alat pengaduk, disebut ”batteuses”. Lilin akan mengendap sempurna dalam alkohol dan selanjutnya dipisahkan dengan cara penyaringan.

Setelah proses penyaringan, larutan minyak dalam alkohol didinginkan dalam ”refrigerator”, yang bertujuan untuk membantu pengendapan lilin yang mungkin masih terdapat dalam larutan minyak-alkohol, dan selanjutnya disaring kembali. Larutan minyak atsiri dalam alkohol yang sudah bebas dari fraksi lilin dipekatkan dengan menguapkan sebagian alkohol dalam ruangan vakum suhu rendah. Minyak bunga-bungaan yang telah dipekatkan dan larut sempurna dalam alkohol disebut ”absolute”, yang berbau wangi alamiah seperti bau bunga dari tanaman penghasilnya dan baik digunakan sebagai bahan baku pembuatan parfum.

Jika dibandingkan dengan mutu minyak bunga hasil dari penyulingan, maka minyak bunga hasil ekstrak menggunakan pelarut menguap, masih memiliki bau asli bunga alamiah. Namun demikian biaya untuk ekstraksi relatif mahal, dan kehilangan pelarut selama proses ekstraksi akan menambah biaya produksi minyak. Oleh karena itu ekstraksi dengan menggunakan pelarut, baik dilakukan terhadap minyak yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, misalnya minyak melati, sedap malam, mimosa, violet dan akasia.
dari berbagai sumber kemudian di sadur kembali dari kumpulan makalah mutia kemala

1. minyak atsiri – cengkeh – https://ummuzuhail.wordpress.com/dunia/atsiri/minyak-cengkeh/

2. minyak atsiri – mawar – https://ummuzuhail.wordpress.com/dunia/atsiri/minyak-mawar/

3. minyak atsiri – melati – https://ummuzuhail.wordpress.com/dunia/atsiri/minyak-melati/

4. minyak atsiri – cempaka – https://ummuzuhail.wordpress.com/dunia/atsiri/minyak-cempaka/

5. minyak atsiri
6. minyak atsiri
7. minyak atsiri
8. minyak atsiri
9. minyak atsiri
10. minyak atsiri
11. minyak atsiri
12. minyak atsiri
13. minyak atsiri
14. minyak atsiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s